Di bawah langit senja Banda Aceh yang berwarna keemasan, tepuk tangan menggema memenuhi Aula Taman Budaya pada 11 Oktober 2025. Sorotan lampu menari di atas panggung, memperlihatkan senyum lebar seorang perempuan muda yang berdiri dengan anggun di tengah sorot kamera. Dalam balutan busana tradisional Aceh yang elegan, langkahnya mantap, suaranya jelas, dan matanya memancarkan keyakinan. Malam itu, nama Rizqa Ilmina, mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Syiah Kuala (USK), resmi diumumkan sebagai Inong Aceh Besar 2025,sebuah pencapaian yang tak hanya membanggakan dirinya, tetapi juga menjadi kebanggaan besar bagi Prodi Ilmu Komunikasi.
Ajang pemilihan Inong dan Aneuk Nanggroe Aceh bukan sekadar kontes kecantikan. Ia merupakan ruang pembuktian bagi generasi muda Aceh untuk menampilkan kecerdasan, wawasan budaya, dan kepribadian yang mencerminkan nilai-nilai lokal. Bagi Rizqa, ajang ini bukan hanya tentang mahkota dan gelar, tetapi tentang perjalanan panjang yang mengajarkannya arti tanggung jawab, ketulusan, dan dedikasi terhadap lingkungan.

“Makna gelar Inong Aceh Besar untuk aku pastinya sebuah amanah dan tanggung jawab besar,” ujar Rizqa Ilmina saat diwawancarai oleh Usha Nisvia Kharima (NSV), mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Syiah Kuala, di Café Tempoe Banda Aceh. “Menjadi seorang Inong berarti menjadi panutan bagi lingkungan sekitar, harus bisa menempatkan diri dengan baik, dan berusaha menjadi sosok yang bermanfaat untuk orang lain.”
Rizqa tak pernah menyangka langkahnya akan sejauh ini. Sejak awal kuliah, ia aktif di berbagai kegiatan kemahasiswaan, sosial, hingga proyek kreatif di kampus. Ia percaya bahwa komunikasi bukan sekadar teori, melainkan keterampilan hidup yang harus diterapkan di dunia nyata. “Sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi, aku justru merasa ini kesempatan berharga. Kita belajar tentang sosial, masyarakat, dan hubungan manusia. Jadi manfaatkan wadah di mana pun kita berada dengan sebaik mungkin,” tuturnya.
Proses menuju ajang Inong Aceh bukanlah hal mudah. Rizqa harus melalui seleksi ketat, menghadapi banyak pesaing berbakat, dan tetap menjaga fokus di tengah kesibukan kuliah. “Aku selalu berpegang pada prinsip time management dan skala prioritas. Kita selalu punya banyak waktu dan kegiatan penting. Kuncinya ada di bagaimana mengatur itu semua agar seimbang dan tercapai,” katanya penuh keyakinan.
Dari seluruh perjalanan itu, momen paling emosional bagi Rizqa terjadi saat masa karantina. Ia dan peserta lainnya hidup bersama selama dua hari penuh. “Kami benar-benar seperti keluarga. Segala kondisi kami lalui bersama dan saling support, malah nggak terasa suasana kompetisinya,” kenangnya sambil tersenyum.
Bagi Rizqa, menjadi Inong Aceh bukan tentang bersaing,melainkan tentang bertumbuh. Ia menilai pengalaman ini memberinya banyak Pelajaran,mulai dari memperluas relasi, memperdalam pengetahuan, hingga mengasah rasa empati. “Di sini aku benar-benar dapet wadah untuk berkembang jadi lebih baik. Semua hal baik berdatangan, relasi, pertemanan, pengalaman. Semuanya berharga,” ujarnya.
Lebih jauh, Rizqa juga berpesan kepada mahasiswa lain untuk berani mencoba hal-hal baru dan tidak hanya berfokus pada tugas kuliah. “Cari peluang, jangan tunggu peluang itu datang. Tanyakan ke teman, dosen, atau siapa pun tentang kegiatan akademik maupun non-akademik. Coba semua hal selagi itu baik dan terarah,” pesannya dengan tegas.
Dalam pandangannya, komunikasi bukan hanya soal berbicara, melainkan bagaimana seseorang mampu membawa diri di tengah masyarakat. “Komunikasi berarti bagaimana cara kita berinteraksi dengan orang lain, termasuk bagaimana kita memahami perasaan dan situasi sekitar. Kalau kita bisa menguasai komunikasi yang efektif, kita bisa memberi pengaruh positif bagi banyak orang,” katanya.
Keberhasilan Rizqa menjadi Inong Aceh 2025 sekaligus menjadi bukti nyata bahwa Prodi Ilmu Komunikasi USK berhasil membentuk mahasiswa yang tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga berkarakter, beretika, dan berdaya saing tinggi. Citra positif ini memperkuat posisi Prodi Ilmu Komunikasi sebagai wadah yang melahirkan generasi komunikatif, inovatif, dan siap memberi dampak sosial.
Bagi Rizqa Ilmina, perjalanan ini bukanlah akhir dari sebuah perjuangan, melainkan awal dari tanggung jawab baru. Ia ingin terus menjadi suara positif bagi generasi muda Aceh,mengajak mereka untuk percaya diri, berani tampil, dan tidak takut bermimpi.
“Masih banyak harapan dan kesempatan untuk kita semua,” tuturnya dengan senyum hangat. “Jangan takut mencoba, tapi takutlah kalau kita tidak pernah berani mengambil kesempatan. Cobalah setiap hal baik, karena dari sanalah kita belajar dan tumbuh. Banggakan diri sendiri, prodi, dan daerah kita dengan prestasi yang nyata dan berdampak positif.”
Lebih dari sekadar prestasi, kisah Rizqa Ilmina adalah kisah tentang semangat, kepercayaan diri, dan dedikasi yang lahir dari ruang belajar bernama Ilmu Komunikasi USK. Ia membuktikan bahwa mahasiswa komunikasi bukan hanyatentang berbicara, tetapi tentang begaimana menyebarkan inspirasi dan menyalakan harapan bagi orang lain.

Prestasi Rizqa Ilmina menjadi potret nyata dari semangat yang tumbuh di Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Syiah Kuala, tempat di mana mahasiswa ditempa untuk berpikir kritis, bertindak bijak, dan berjiwa sosial. Lebih dari sekadar pencapaian individu, keberhasilannya mencerminkan nilai-nilai yang dihidupkan dalam setiap pembelajaran di prodi ini: komunikasi yang bermakna, empati terhadap sesama, dan kemampuan menyampaikan pesan dengan integritas.
Di tengah tantangan era digital dan persepsi publik yang sering menyederhanakan ilmu komunikasi sebatas kemampuan berbicara, Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Syiah Kuala terus menunjukkan perannya sebagai ruang pembentukan karakter, etika, dan profesionalitas. Melalui prestasi mahasiswanya, seperti Rizqa Ilmina yang berhasil meraih gelar Inong Aceh Besar 2025, prodi ini membuktikan bahwa komunikasi adalah ilmu yang membangun manusia sekaligus peradaban.
Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Syiah Kuala terus berupaya menjadi ruang yang melahirkan generasi muda yang berani berbicara untuk kebaikan dan berkomitmen terhadap perubahan. Melalui kisah para mahasiswanya, tersampaikan pesan kuat bahwa komunikasi sejati tidak berhenti di ruang kelas, melainkan hadir dalam tindakan nyata yang membawa dampak positif bagi masyarakat.Dari Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala, lahir para komunikator muda yang mampu menjembatani gagasan, menebarkan inspirasi, dan menyalakan semangat perubahan. Sebab pada akhirnya, Ilmu Komunikasi bukan sekadar bidang studi, melainkan ruang untuk memahami manusia, menggerakkan empati, dan membangun dunia yang lebih terbuka serta berdaya.
Comments are closed