
Banda Aceh, 19 Oktober 2025 — Orientasi mahasiswa baru Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Syiah Kuala tahun 2025 hadir dengan semangat baru. Di bawah kepemimpinan M Mustika Habibi atau yang akrab disapa Habibi, mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi yang terpilih sebagai Ketua Panitia PAKARMARU FISIP 2025, kegiatan ini dirancang lebih interaktif, komunikatif, dan menyenangkan bagi mahasiswa baru.
Berawal dari pengalamannya sendiri saat menjadi mahasiswa baru, Habibi mengaku ingin menghadirkan suasana Ospek yang lebih hidup dan bermakna. Ia menilai bahwa kegiatan orientasi pada masanya dulu terasa monoton karena terlalu banyak sesi penyampaian materi tanpa ruang interaksi antar mahasiswa.
“Waktu saya jadi maba, Ospeknya terasa membosankan dan membuat saya malah kurang tertarik dengan dunia kampus. Tapi setelah ikut jadi panitia kegiatan di kampus, pandangan saya berubah. Dari situ saya bertekad, kalau nanti dipercaya memimpin Ospek, saya ingin bikin kegiatan yang beda, yang bisa bikin mahasiswa baru benar-benar merasa diterima,” ujar Habibi.
Selain pengalaman pribadinya, latar belakang Habibi yang pernah berkecimpung di dunia event organizer juga menjadi bekal penting dalam menyusun konsep Ospek tahun ini. Ia ingin menciptakan kegiatan yang tidak hanya informatif, tetapi juga menumbuhkan rasa kebersamaan antar mahasiswa lintas prodi di FISIP.
Proses terpilihnya Habibi sebagai Ketua Panitia pun cukup menarik. Ia mengungkapkan bahwa awalnya tidak ada satu pun mahasiswa yang mencalonkan diri, padahal waktu pelaksanaan semakin dekat. Melihat situasi tersebut, Habibi akhirnya mengajukan diri secara sukarela kepada Ketua BEM FISIP USK.
“Pada suatu momen, saya ngomong ke ketua BEM nya. Gimana kalau saya aja yang menjadi ketua panitia untuk Pakarmaru tahun ini. Ternyata responnya positif, saya juga dapat dukungan dari teman-teman dan pihak akademik,” jelasnya.
Persiapan Ospek FISIP 2025 dimulai sejak awal Juli. Namun, banyak sekali tantangan yang dihadapi. Mulai dari keterbatasan waktu, pembagian antara kegiatan kuliah dan persiapan ospek, hingga koordinasi selama libur semester ketika banyak anggota panitia yang sudah kembali ke kampung halamannya. Masalah keuangan dan komunikasi antara panitia dan pihak akademik juga menjadi tantangan tersendiri.
Meski begitu, semua rintangan tersebut menjadi pengalaman berharga dalam kepemimpinan dan pengambilan keputusan.
“Ketika kita berani mengambil tanggung jawab, pasti akan ada badai yang harus dihadapi sebelum munculnya pelangi. Banyak perbedaan pendapat dan tantangan yang muncul, tapi di situlah kita belajar cara bertahan dan memimpin,” ungkapnya dengan penuh makna.
Menutup perbincangan, Habibi menyampaikan harapan agar kegiatan Ospek FISIP 2025 tidak hanya menjadi ajang penyambutan, tetapi juga wadah untuk mempererat kebersamaan antar prodi di lingkungan FISIP.
“Pakarmaru FISIP 2025 bukan hanya ajang penyambutan mahasiswa baru, tetapi juga bagaimana kami mengharmonisasikan seluruh empat prodi dalam satu kesatuan, sehingga mereka merasa ini milik kita bersama. FISIP milik kita bersama, warna kita maroon. Terlepas dari itu, kita punya kubu masing-masing,” tutur Habibi.
Dengan semangat kolaborasi dan tanggung jawab, Habibi berharap PAKARMARU FISIP 2025 dapat menjadi awal yang baik bagi mahasiswa baru dalam mengenal kehidupan kampus, membangun relasi, dan menumbuhkan rasa bangga terhadap fakultas. Kepemimpinannya menjadi contoh nyata bahwa mahasiswa FISIP tidak hanya diajarkan teori sosial dan politik, tetapi juga nilai-nilai empati, komunikasi, dan kerja sama dalam praktik nyata.

Comments are closed