Banda Aceh – Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Syiah Kuala (USK) menggelar kampanye etika digital bertajuk “Ketikan Beradab, Jejak Berkelas” melalui gerakan #KetikCerdas di MTsN 4, Banda Aceh, Rabu (21/10/2026). Kegiatan yang diikuti 32 siswa kelas IX-3 tersebut bertujuan mengajak siswa lebih bijak dalam berinteraksi di ruang digital, mulai dari menjaga etika berkomentar hingga memahami dampak jejak digital.

Kampanye ini merupakan bagian dari tugas mata kuliah Komunikasi Pemasaran Sosial yang diampu oleh Uswatun Nisa, M.A. Kegiatan dilaksanakan oleh lima mahasiswa Ilmu Komunikasi USK, yaitu Nailul Muna Nasution, Syaukani Restu Ramadhan, Alamul Afkar, Satria Wijaya, dan Aliy Rizqi.

Dalam kampanye tersebut, mahasiswa menyoroti bahwa aktivitas di media sosial bukan sekadar pertukaran pesan, tetapi juga mencerminkan sikap dan perilaku penggunanya. Komentar yang ditulis tanpa pertimbangan dapat menyakiti orang lain, memicu pertengkaran, bahkan meninggalkan jejak digital yang berpotensi memengaruhi reputasi seseorang di kemudian hari.

Syaukani Restu Ramadhan, salah satu pemateri, menjelaskan pentingnya memahami dampak jejak digital serta menjaga etika ketika berinteraksi di internet.

“Jejak digital itu ibarat tato permanen di dunia maya. Apa yang kita unggah atau komentari bisa tetap ada dan dilihat orang lain, meskipun kita merasa sudah menghapusnya. Jadi, kita harus lebih hati-hati sebelum mengetik atau mengunggah sesuatu,” ujar Syaukani.

Selain membahas jejak digital, materi kampanye juga mencakup cara mengelola konflik di kolom komentar, mencegah pertengkaran di ruang digital, menjaga privasi, serta menghargai karya orang lain. Nailul Muna Nasution selaku pemateri kedua menekankan bahwa pengguna media sosial tidak harus selalu menanggapi komentar yang memancing emosi.

“Kalau kita menemukan komentar yang memancing emosi, kita nggak harus selalu membalasnya. Kadang, berhenti berkomentar justru lebih baik daripada memperpanjang pertengkaran. Kita boleh berbeda pendapat, tetapi jangan sampai perbedaan itu membuat kita menyakiti orang lain,” ujar Nailul.

Untuk membantu siswa memahami materi, mahasiswa turut memperkenalkan rumus T.H.I.N.K. sebelum mengirimkan komentar atau mengunggah sesuatu. Rumus tersebut terdiri atas True (benar), Helpful (bermanfaat), Inspiring (menginspirasi), Necessary (perlu), dan Kind (baik atau sopan). Melalui pendekatan ini, siswa diajak mempertimbangkan kebenaran informasi, manfaat pesan, serta dampaknya bagi orang lain sebelum membagikannya.

Penyampaian materi didukung dengan pemutaran video kampanye dan sesi interaktif berupa ice breaking serta kuis. Siswa menunjukkan antusiasme dengan memperhatikan materi dan berpartisipasi dalam menjawab pertanyaan. Kegiatan juga dilengkapi dengan pengisian kuesioner sebelum dan sesudah penyampaian materi (pre-test dan post-test) sebagai bagian dari evaluasi kampanye.

Melalui gerakan #KetikCerdas, mahasiswa berharap siswa dapat membiasakan diri untuk berpikir sebelum mengetik, memeriksa informasi sebelum membagikannya, serta menjaga sikap ketika berkomunikasi di media sosial. Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa penggunaan ruang digital yang sehat tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada tanggung jawab setiap penggunanya.

Categories: