Banda Aceh, 17 Mei 2024 — Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Syiah Kuala (USK) menorehkan langkah bersejarah dalam upaya internasionalisasi akademik dengan mengirimkan delapan mahasiswa dalam program pertukaran pelajar bertajuk Student Exchange FISIP USK. Kegiatan ini merupakan bagian dari inisiatif World Class University (WCU) yang digagas oleh USK untuk memperluas jejaring akademik di tingkat global.
Berbeda dari fakultas lain seperti Ekonomi dan Teknik yang telah lebih dulu aktif mengirim mahasiswa ke luar negeri, FISIP kali ini resmi memulai debutnya di kancah pertukaran pelajar internasional. Negara tujuan yang dipilih pun bukan sembarangan: Malaysia, negeri serumpun yang memiliki kedekatan sejarah dan budaya dengan Aceh.
Salah satu delegasi yang menonjol adalah M Mustika Habibi (22), mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi angkatan 2022, sebab untuk pertama kalinya mendapatkan kesempatan belajar di luar negeri. Habibi, yang akrab disapa demikian,menyampaikan rasa syukurnya atas kesempatan yang didapatkan. “Saat itu adalah pertama kalinya saya ke luar negeri. Rasanya seperti membuka pintu ke dunia baru, tidak hanya secara akademik tapi juga budaya” ujar Habibi.
Dalam rombongan perdana ini, terdapat sepuluh peserta yang terdiri dari delapan mahasiswa dan dua dosen pembimbing. Dari Program Studi Ilmu Komunikasi, turut serta Habibi, Genta, Miska, dan Marsya; sementara dari Ilmu Pemerintahan hadir Haikal, Alfat, Aya, dan Khaira. Dua dosen pendamping, yakni Rizanna Rosemary dari Ilmu Komunikasi dan Nurul Kamaly dari Ilmu Pemerintahan, turut memimpin delegasi tersebut.
Selama kurang lebih tujuh hari berada di Malaysia, Habibi bersama delegasi FISIP USK mengikuti rangkaian kegiatan akademik dan kebudayaan di dua wilayah utama. Empat hari pertama mereka habiskan di Universiti Teknologi Malaysia (UTM), Johor Bahru, di mana Habibi berperan aktif dalam memperkenalkan profil FISIP serta menjelaskan konteks sosial dan budaya Aceh. Melalui berbagai sesi diskusi dan perkuliahan umum, ia menjelaskan bahwa Aceh memiliki kedekatan historis dan kultural yang kuat dengan Malaysia. Banyak mahasiswa UTM yang mengaku terkejut mengetahui tingkat kemiripan tersebut, meski sebelumnya telah menyadari adanya keterhubungan antar kedua wilayah dalam rumpun Melayu.
Dalam salah satu perkuliahan bertema leadership di UTM, Habibi memperkenalkan Laksamana Malahayati, pahlawan perempuan Aceh yang dikenal sebagai laksamana wanita pertama di dunia. Ia menekankan bahwa kepemimpinan bukanlah soal jenis kelamin, melainkan kemampuan menumbuhkan semangat juang serta menggerakkan semangat orang lain. Hal ini mendapat apresiasi dari mahasiswa dan dosen UTM karena mencerminkan nilai kepemimpinan yang inklusif dan kontekstual.
Setelah menyelesaikan agenda di UTM, Habibi dan tim delegasi melanjutkan perjalanan ke Kuala Lumpur selama tiga hari. Di sana, mereka mengunjungi sejumlah universitas ternama seperti University of Malaya (UM) dan Universiti Sains Malaysia (USM) guna menjajaki peluang kerja sama akademik di masa mendatang.
Selain memperluas jejaring akademik, pengalaman ini juga memperkaya interaksi lintas budaya. Habibi mengakui bahwa selama di Malaysia ia banyak menjalin pertemanan baru, bahkan hingga kini masih aktif berkomunikasi dengan mahasiswa Malaysia melalui media sosial. Menurutnya, pengalaman ini menjadi langkah awal yang penting bagi mahasiswa Aceh untuk membuka cakrawala global sekaligus memperkuat identitas keilmuan dan kebudayaan di tingkat internasional.
Menurut Habibi sendiri, partisipasi dalam program ini merupakan awal dari upaya berkelanjutan FISIP untuk terlibat lebih aktif dalam jaringan akademik internasional. Kunjungan ke Malaysia ini membuka berbagai kemungkinan kerja sama lanjutan antara FISIP USK dan institusi pendidikan tinggi di Malaysia.
Aceh memiliki daya tarik tersendiri di mata akademisi Malaysia, terutama dalam bidang studi kebencanaan dan ketangguhan masyarakat. Keterhubungan budaya dan sejarah antara Aceh dan Malaysia sebagai bagian dari rumpun Melayu juga memberi nilai tambah dalam memperkuat kolaborasi ke depan.
FISIP USK juga menyatakan kesiapannya untuk menjadi tuan rumah dalam kegiatan akademik lintas negara, termasuk memfasilitasi kunjungan, pertukaran pelajar, hingga kerja sama riset antar institusi.Program ini sejalan dengan agenda World Class University (WCU) yang diinisiasi Universitas Syiah Kuala. Melalui inisiatif tersebut, USK berupaya memperkuat kiprahnya di kancah global. Sebagai universitas tertua dan terbesar di Aceh, USK ingin memperluas kontribusinya tidak hanya bagi masyarakat lokal, tetapi juga bagi komunitas internasional.Dengan semangat baru di bawah moto “Jantung Hati Rakyat Aceh”, USK kini menatap visi lebih luas: menjadi “Jantung Hati Dunia.” Keterlibatan Habibi dan rekan-rekannya menjadi bukti nyata dari semangat tersebut sebuah langkah awal menuju kolaborasi akademik global yang lebih kuat di masa mendatang.
Comments are closed