Banda Aceh, 20 Oktober 2025 – Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik USK  Mengabdi menjadi pengalaman berkesan bagi salah satu mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi  Universitas Syiah Kuala, M. Mustika Habibi, yang terlibat sebagai relawan pada tahun 2025.  Meskipun hanya berlangsung selama satu minggu, pengabdian tersebut mengubah cara  pandangnya terhadap arti komunikasi dan empati. 

Habibi bergabung karena program ini dinilai lebih fleksibel untuk dijalankan bersamaan  dengan aktivitas kerjanya sebagai mahasiswa pekerja. Berbeda dari KKN reguler, KKN Tematik  dilakukan secara intensif dalam waktu singkat. “Karena saya kuliah sambil kerja, saya butuh  program pengabdian yang tetap bisa jalan tanpa mengganggu tanggung jawab lain. KKN Tematik  ini jawabannya,” ungkapnya. 

Tantangan pertama muncul saat berhadapan dengan masyarakat yang lebih banyak  menggunakan bahasa daerah. Komunikasi tidak selalu berjalan mulus “Kadang saya tanya ke  kawan, ‘Bro, dia bilang apa barusan?’ Tapi lama-lama kami saling mengerti” ujarnya. 

Keterbatasan fasilitas juga menjadi pengalaman tersendiri. Dengan jumlah relawan yang  cukup banyak, mereka harus beradaptasi dalam berbagai situasi, mulai dari berbagi kebutuhan  sehari-hari hingga menyesuaikan jadwal. Meski sederhana, kebersamaan justru menciptakan rasa  solidaritas yang hangat. 

Dalam pelaksanaan program kerja, Habibi terlibat dalam sosialisasi mengenai adiksi game  pada anak-anak sekolah dasar. Ia menyadari bahwa meski akses literasi terbatas, anak-anak justru  akrab dengan permainan daring seperti Free Fire dan Mobile Legends. Lewat pendekatan  persuasif, ia mengajak mereka memahami dampak penggunaan gawai secara berlebihan tanpa  terkesan menggurui. 

Selain itu, para relawan juga melakukan revitalisasi makam pahlawan nasional di sekitar  lokasi pengabdian. Kegiatan ini sekaligus menjadi ajakan kepada masyarakat untuk menghargai  sejarah dan menjaga lingkungan.  

Namun, momen paling membekas justru terjadi di luar agenda formal. Setiap sore, anak anak mendatangi musala tempat para relawan tinggal hanya untuk bermain, mengaji, atau  sekadar bercerita. Habibi bahkan beberapa kali membelikan jajanan dari uang pribadinya agar  mereka merasa diperhatikan. “Saya sadar, bagi kita mungkin ini hanya seminggu singgah, tapi  bagi mereka, momen itu bisa jadi kenangan seumur hidup. Saat kami akan pulang, mereka 

menangis dan meminta kami untuk tetap tinggal. Bahkan ada yang bilang, “Abang bangun rumah  saja di sini, biar tinggal sama kami” kenangnya haru. 

Pengalaman tersebut membuat Habibi merefleksikan kembali makna pengabdian. Sebagai  mahasiswa Ilmu Komunikasi, ia merasa bahwa kedekatan emosional tidak selalu dibangun melalui  teori, tetapi melalui kehadiran langsung di tengah masyarakat. “Pengabdian itu bukan tentang  seberapa besar program kerja kita, tapi seberapa besar hati yang kita bawa,” tutupnya. 

Kisah ini menunjukkan bahwa pengabdian tidak harus megah untuk berdampak. Melalui  KKN Tematik USK Mengabdi, mahasiswa tidak hanya belajar menyampaikan pesan kepada  publik, tetapi juga belajar menerima pesan balik dari masyarakat yang mereka datangi. 

~SFZ~

Categories:

Tags:

Comments are closed