
Banda Aceh, 16 Oktober 2025 — Bagi sebagian mahasiswa, menyelesaikan kuliah secepat mungkin adalah tujuan utama. Namun bagi M. Rais Syahizinda, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Syiah Kuala, yang terpenting bukanlah seberapa cepat ia lulus, melainkan seberapa tepat ia menemukan jati diri selama menempuh pendidikan.
Rais memulai kuliahnya pada tahun 2019. Saat itu, ia mengaku termasuk tipe “mahasiswa kupu-kupu” — kuliah, pulang, kuliah, pulang. “Abang dulu cuma datang kuliah, duduk, dengar, terus pulang. Waktu itu belum terlalu peduli sama dunia kampus” ujarnya sambil tersenyum.
Perubahan besar datang pada tahun 2020, ketika pandemi COVID-19 membuatnya lebih banyak waktu untuk refleksi diri. Dari sanalah ia mulai memperhatikan penampilan, ikut kegiatan online, dan berani tampil di berbagai ajang. Kini, Rais dikenal sebagai figur muda aktif di Aceh — menjadi Duta PON XXI 2024 Aceh-Sumut, Voice Over Talent, model di Aceh Fashion Festival 2023, hingga penyiar TVRI Aceh.
Menjalani banyak peran tentu bukan hal mudah. “Tantangan paling berat itu kalau kegiatan bentrok. Abang harus buat plan list dan tentuin prioritas, biar gak kelupaan,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa disiplin dan kemampuan mengatur waktu menjadi kunci utama.
Di tengah kesibukan, rasa takut telat lulus sempat menghantui. “Pernah takut, nyesal enggak. Apalagi waktu lihat teman-teman udah Yudisium duluan,” ujarnya. Bahkan, Rais sempat membuat video TikTok tentang rasa takutnya telat lulus, yang kemudian viral. “Dari komentar orang-orang, abang sadar banyak yang senasib. Ada yang telat karena finansial, keluarga, atau hal lain. Jadi, setiap orang memang punya waktunya masing-masing.”
Meski begitu, Rais bersyukur karena selalu mendapat dukungan dari lingkungan kampus. “Dosen pembimbing pernah bilang, ‘eh Rais mantap kali ikut duta, tapi skripsi jangan lupa ya!’ Itu candaan, tapi sekaligus motivasi,” tuturnya.
Ketika ditanya tentang pilihan antara akademik dan pengalaman lapangan, Rais menegaskan keduanya sama penting. “Akademik tanpa pengalaman lapangan sama aja bohong. Teori tanpa praktik gak akan lengkap,” katanya.
Baginya, lulus di waktu yang tepat bukan berarti menunda, melainkan memahami ritme belajar yang sesuai. “Kalau bisa cepat dan tepat ya bagus. Tapi kalau harus milih, abang pilih lulus di waktu yang tepat. Tapi jangan dijadikan alasan buat malas-malasan,” ungkapnya.
Rais menutup dengan pesan untuk mahasiswa lain: “Tetap jalanin aja gimana pun fase hidup sekarang. Mungkin lagi di fase turun, tapi percaya deh, nanti pasti ada fase naik. Setiap masa sulit pasti nyimpen misteri dan rezekinya sendiri.”
Kisah Rais menjadi pengingat bahwa perjalanan kuliah bukan sekadar soal kecepatan, melainkan tentang bagaimana seseorang menemukan versi terbaik dirinya di proses itu. Tak ada garis finis yang sama. Bagi sebagian,cepat itu hebat;bagi yang lain, tepat adalah kemenangan sejati. Yang terpenting, setiap langkah di kampus harus jadi ruang belajar untuk tumbuh, bukan sekedar mengejar gelar, tapi juga menemukan arah hidup.
Comments are closed