
Banda Aceh — Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Syiah Kuala (USK), menggelar kegiatan edukasi tentang Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) pada Jumat 30 Oktober 2026, di ruang FISIP USK. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Nabila Azkia, Tri Maharani, Zaskia Martasya, dan Zurriya Mayang Telesmi.
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman peserta tentang KBGO dan cara menyikapinya. Media digital memudahkan komunikasi dan berbagi informasi, tetapi juga dapat menjadi ruang terjadinya kekerasan. Bentuknya beragam, mulai dari pelecehan, pemaksaan, dan ancaman hingga penyebaran konten pribadi tanpa izin. Oleh karena itu, pengguna media digital perlu mengenali berbagai bentuk KBGO dan memahami langkah untuk melindungi diri serta membantu orang lain.
Acara diawali dengan pre-test untuk mengetahui pemahaman awal peserta tentang KBGO. Selanjutnya, pemateri menyampaikan materi singkat tentang pengertian dan bentuk-bentuk KBGO, dampaknya bagi korban, serta langkah yang dapat diambil saat menghadapi atau menyaksikan kasus tersebut. Peserta juga diajak memahami pentingnya menjaga privasi, menghormati batasan orang lain, dan menggunakan media digital dengan bijak.

Materi dilanjutkan dengan pemutaran film pendek yang dibuat oleh kelompok penyelenggara sebagai bagian dari kegiatan edukasi. Film tersebut mengisahkan pemaksaan dan ancaman penyebaran foto pribadi dalam sebuah hubungan. Ceritanya menggambarkan bagaimana tekanan dan manipulasi dapat membuat korban merasa takut dan tertekan, serta kesulitan mencari bantuan.
Melalui film ini, penyelenggara ingin menunjukkan bahwa kekerasan dapat terjadi dalam hubungan dekat, termasuk melalui media digital. Ancaman menyebarkan foto pribadi bukanlah bentuk kasih sayang atau perilaku yang wajar dalam hubungan. Film tersebut juga menegaskan bahwa korban KBGO membutuhkan dukungan dan rasa aman, bukan penilaian atau sikap menyalahkan.
“Lewat kegiatan ini, kami berharap kalian, para peserta, dan siapa pun yang membaca atau mendengar tentang KBGO bisa lebih mengenali bentuk-bentuknya dan memahami bahwa korban tidak seharusnya disalahkan. Kita perlu menjaga privasi, tidak menyebarkan konten pribadi tanpa izin, dan mendukung korban supaya bisa mendapat bantuan yang aman.” ujar Tri Maharani, selaku pemateri.

Usai pemutaran film, peserta mengikuti diskusi dan tanya jawab. Pada sesi ini, peserta membahas pesan film dan mengaitkannya dengan situasi yang mungkin mereka temui di media sosial maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam diskusi, peserta juga diajak memahami bahwa konten pribadi tidak boleh disebarkan tanpa persetujuan, sekalipun sudah beredar di media sosial. Menyimpan bukti, melaporkan akun, mengamankan akun pribadi, dan mencari bantuan dari orang atau pihak tepercaya dapat menjadi langkah awal saat menghadapi KBGO. Peserta juga diingatkan agar tidak meneruskan konten yang berpotensi merugikan korban ataupun menyalahkan korban atas tindakan pelaku.
Kegiatan ditutup dengan post-test untuk mengukur pemahaman peserta setelah mengikuti edukasi. Hasil pre-test dan post-test digunakan untuk membandingkan pemahaman peserta sebelum dan sesudah kegiatan. Melalui acara ini, peserta diharapkan semakin mampu mengenali KBGO, memahami pentingnya menjaga privasi, dan mendukung korban.
Penyelenggara berharap kegiatan ini dapat membuat peserta lebih peka terhadap KBGO, lebih bijak dalam menggunakan media digital, dan berani mendukung korban. Edukasi ini juga diharapkan mendorong terciptanya ruang digital yang lebih aman dan saling menghargai, tanpa menyalahkan korban.
Recent Comments